Koneksi Antar Materi_Modul 3.3.a.9
Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
Setiap institusi pendidikan memiliki
program pengembangan sekolah baik untuk sumber daya manusianya juga
infrastruktur penunjang pembelajaran serta fasilitas administratif lainnya.
Keseluruhan program tersebut dapat berjalan dengan baik jika ada dukungan dari
seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru, pegawai, siswa, komite, orang
tua siswa, lingkungan fisik, alam, sarana, prasaran dan luar sekolah seperti
masyarakat , lingkungan alam sekolah, serta tradisi adat istiadat sekitar
sekolah. Setiap program yang dijalankan pasti ada risiko yang menyertai karena
terdapat unsur ketidakpastian dalam setiap rencana program yang disusun.
Hal menarik pada pembelajaran modul
3.3 adalah mengenai manajemen risiko dan MERL ( Monitoring, Evaluation,
Learning, Reporting ). Manajemen risiko adalah metoda yang tersusun secara
logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan yaitu;(1) menetapkan konteks,
(2) identifikasi, (3) analisa, (4) evaluasi, (5) pengendalian, (6) komunikasi
risiko. Risiko dalam sebuah program tidak dapat dihindari namun dapat dikelola
dan dikendalikan untuk meminimalisirkerugian serta hambatan yang ditimbulkan
dalam pelaksaanaan program. Manajemen risiko haruslah menjadi satu kesatuan
bagian dari pelaksanaan program. Menurut Princewatercoper,
2003 ada beberapa tipe risiko dalam lembaga pendidikan meliputi :
1. Risiko Strategis merupakan risiko yang berpengaruh terhadap
kemampuan organisasi mencapai tujuan
2. Risiko Keuangan merupakan risiko yang mungkin akan berakibat
berkurangnya asset
3. Risiko operasional merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan
proses manajemen
4. Risiko Pemenuhan merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan
proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku
5. Risiko Reputasi merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan
merek lembaga.
Dalam
pengelolaan program, selain mempertimbangkan risiko yang menyertai, hal penting
lainnya adalah startegi dalam mensukseskan program tersebut. Salah
satu strategi yang digunakan dalam Pengelolaan Program adalah strategi MELR
(Monitoring, Evaluation, Learning and Reporting).
Monitoring merupakan kegiatan rutin yang dilakukan
untuk mengumpulkan data dan mengukur kemajuan atau objektifitas kegiatan yang
dilakukan, proses pemamtauan perubahan yang berorientasi pada proses dan out
put. Proses ini dilakukan perhitungan akan kegiatan yang akan dilakukan dan
melihat secara langsung pelaksaan program, apakah sudah sesuai dengan rencana
atau belum. Evaluasi merupakan
proses yang dilakukan untuk menilai kefektifan suatu program dan perubahan
signifikan dari suatu program, kebutuhan perbaikan, rencana tindak lanjut dan
rekomendasi. Adapaun tujuan dari evaluasi
adalah untuk mengetahui ketercapaian tujuan dan sasaran program, mengetahui
estimasi dana yang dikeluarkan dan manfaat program tersebut mengukur kualitas
out put dari program, melihat dampak positif dan negative dari suatu program, mengetahui
penyimpangan-penyimpangan yang muncul setelahnya, membandingkan antara tujuan
dan ketercapaian target dan sebagai masukan untuk memperbaiki bagi proses
program selanjutnya. Terdapat beberapa indikator dalam sebuah evaluasi yaitu efektivitas, kecukupan, pemerataan, responsivitas,
dan ketepatan.
Learning
atau pembelajaran adalah hal penting lainnya yang menjadi landasan dalam
pelaksanaan sebuah program. Dr Roger
green seorang ahli dibidang pelatihan guru dan sebagai fasilitator merancang
kerangka kerja pembelajaran (learning) melalui model (4F) yaitu fact (fakta): catatan obyektif tentang
apa yang terjadi, Feeling, (Perasaan): reaksi emosional tentang sesuatu,
finding (temuan): pembelajaran konkrit yang diambil dari situasi tersebut, dan future (masa
depan): menyusun pembelajaran digunakan untuk masa depan. Reporting / laporan adalah pesan yang disampaikan secara sistematis
dan objektif yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu bagian
organisasi kepada bagian lain atau lembaga lain untuk membantu pengambilan
keputusan atau memecahkan persoalan. Ini juga dapat sebagai alat bagi pimpinan
untuk menginformasikan atau memberikan masukan untuk pengambilan setiap
keputusan yang diambilnya, oleh karena itu laporan harus akurat, lengkap, dan
obyektif. Dalam prakteknya laporan adalah sebuah dokumen yang merupakan produk
akhir dari suatu kegiatan ( Himstreet,
et al; 1983).
Pengelolaan
sebuah program termasuk program sekolah sangat erat hubungannya dengan
ketersediaan sumber daya baik yang hidup (biotik) dan juga tidak hidup. Sumber
daya tersebut dapat dioptimalkan untuk mendukung terlaksananya program dengan
baik sesuai harapan. Dalam proses pengelolaan program pendekatan Inquiry Appreciative
(IA) sangat baik diaplikasikan dengan
menggunakan metode BAGJA yang merupakan akronim dari B (Buat Pertanyaan Utama),
A (Ambil Pelajaran), G (Gali Mimpi), J (Jabarkan Rencana), A (Atur Eksekusi).
Metode ini memberikan tuntunan dari awal sebuah ide muncul sampai pada
pelaksanaan nyata dilapangan dengan dukungan dan tanggung jawab yang telah
jelas ditetapkan.
Pengelolaan
program yang berdampak pada murid di modul ini (Modul 3.3) merupakan rangkaian
akhir dari 3 modul dalam pendidikan guru penggerak. Isi modul ini tidak dapat
lepas dari modul-modul sebelumnya. Landasan penyusunana dan pengelolaan program
yang berdampak pada murid tidak terlepas dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan
adalah untuk mencapai keselamatan dan kebahagaian yang setinggi-tingginya
(modul 1.1). Beranjak dari filosofi tersebut, maka dibuatlah program yang
berdampak pada murid (modul 3.3). Dari modul awal (modul 1.1) menuju modul
akhir (modul 3.3) tentu dirangakai oleh delapan modul lain sebagai kaitnya. Diperlukan
nilai-nilai guru penggerak (modul 1.2) selama pembuatan program sampai akhir
program. Nilai tersebut adalah mandiri, kolaborasi, reflektif, inovatif, dan
berpihak pada murid. Selanjutnya diperlukan pendekatan inkuiri apresiatif (IA)
melalui tahapan BAGJA (modul 1.3) untuk memudahkan melakukan pemetaan program.
Dalam pelaksanaan program yang berdampak pada murid diperlukan penanaman budaya
positif (modul 1.4) berupa disiplin positif dan sebisa mungkin menghindari
hukuman sebagai punishment. Oleh karena itu, diperlukan suatu
kesepakatan sebelum program dilaksanakan. Tentu tidak semua murid memiliki
kemampuan yang sama sehingga program yang dibuat agar benar-benar berdampak
bagi murid diperlukan diferensisasi (modul 2.1) sesuai dengan karakteristik dan
profil murid. Tak jarang juga dalam pelaksanaan yang sudah direncanakan dengan
matang akan terjadi kendala yang bisa memancing emosi sehingga diperlukan
latihan STOP sebagai salah satu cara mengendalikan emosi. Jadi sosial-emosional
(modul 2.2) selama perencanaan sampai evaluasi harus dikontrol. Pembagian tugas
pun setelah dipetakan kadang masih ada yang mengalami kebingungan sehingga
diperlukan praktik coaching (modul 2.3) baik pada rekan
sejawat maupun pada murid yang mengalami masalah saat program dilaksanakan.
Untuk menjalankan program tersebut tentu diperlukan seorang pemimpin pembelajaran
yang dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab (modul 3.1). Berkaitan dengan Pengelolaan Aset Sekolah seluruhnya
di manfaatkan / diberdayakan dalam menyusun dan mengelola program sekolah yang
berdampak pada murid dengan selalu berpikir positif dan memanfaatkan potensi
yang ada di sekolah sebagai kekuatan yang harus terus dikembangkan.
Semua
dilakukan untuk murid agar cita-cita besar Bapak Pendidikan Indonesia untuk
mengantarkan mereka mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya
dapat terwujud. Salam Guru Penggerak, Salam Merdeka Belajar.
Putu Suhartana_CGP
Angkatan 2_Kab. Gianyar.
Komentar
Posting Komentar