Modul 3.1.a.10
AKSI NYATA
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
A. Peristiwa ( Facts )
Latar
Belakang.
Dalam
sebuah lembaga termasuk lembaga pendidikan ( sekolah ) selalu akan ditemukan
berbagai kasus yang melibatkan warga sekolah. Kasus – kasus yang terjadi bisa
berupa kasus ringan yang dapat dengan mudah dicarikan solusinya dan terdapat
juga kasus yang krusial sehingga diperlukan upaya lebih keras lagi dalam
mendapatkan solusi yang tepat. Dalam menyelesaikan sebuah kasus, guru sebagai
pemimpin pembelajaran seyogyanya mampu mengambil sebuah keputusan yang berpihak
kepada kebutuhan murid. Keputusan akan mudah diambil jika dihadapkan pada
pilihan benar lawan salah, dalam hal ini biasa disebut dengan bujukan moral namun kadang kebimbangan
muncul ketika keputusan diambil diantara dua hal yang benar dari sudut pandang
yang berbeda. Hal ini disebut dengan dilema
etika.
Penulis
adalah salah satu guru di SMA Negeri 1 Sukawati-Gianyar yang diberikan tugas tambahan
oleh kepala sekolah sebagai bapak asuh
siswa dari provinsi Papua dan Papua barat. Siswa tersebut masuk dalam program
ADEM ( Afirmasi Pendidikan Menengah ) yaitu pemberian kesempatan anak-anak yang
bertempat tinggal didaerah terpencil, terluar, dan tertinggal untuk dapat
mengeyam pendidikan didaerah yang sudah lebih berkembang dan maju. Seluruh
kebutuhan mereka menjadi tanggungan pemerintah yang pengelolaannya diserahkan
ke pihak sekolah.
Dari
delapan siswa yang menjadi anak asuh penulis saat ini, salah satu dari mereka
yang bernama Jacson Bogum mengalami sebuah permasalahan / kasus. Dia bersama
teman sedaerah namun bersekolah di beda
kecamatan mengalami kecelakaan bermotor. Sepeda motor yang dia gunakan adalah
hasil menyewa dari sebuah tempat penyewaan sepeda motor. Jackson selalu memelas
kepada saya agar peristiwa ini tidak dilaporkan ke kepala sekolah karena kepala
sekolah sudah berkali – kali mengingatkan agar siswa ADEM tidak melakukan
kegiatan perjalanan jauh apalagi menggunakan sepeda motor sewaan. Dia takut
jika kepala sekolah tahu tentang hal ini maka beasiswanya bisa dicabut dan
bahkan bisa dikirim kembali ke daerah asalnya. Setelah saya tanyakan kronologis
kejadiaannya, ternyata Jacson membantu temannya yang tidak bisa mengendarai
sepeda motor untuk mengunjungi sanak saudaranya yang berada di kabupaten
Karangasem. Dia tidak bisa menolak permintaan temannya karena kerabat temannya
tersebut dalam keadaan sakit.
Penulis
saat itu menghadapi sebuah dilema apakah harus melaporkan kasus tersebut karena
kepala sekolah berhak tau, ataukah menyembunyikan kasus ini untuk melindungi
anak asuh penulis.
Alasan Melakukan Aksi Nyata
Setiap
siswa berhak mendapatkan kenyamanan dalam mengeyam pendidikan disekolah, selama
kasus ini belum terselesaikan maka Jacson akan terus merasa was-was dan tidak
nyaman dalam belajar sehingga pasti akan berpengaruh terhadap capaian belajarnya.
Disisi lain, Jacson harus menerima konsekuensi dari pelanggaran yang telah dia
lakukan sehingga dapat memberikan rasa keadilan kepada siswa lainnya yang
mematuhi aturan yang telah disepakati. Sebagai seorang guru penulis berusaha
mencari solusi sehingga dapat menghasilkan sebuah keputusan yang dapat
dipertanggung jawabkan sebagai seorang pemimpin pembelajaran.
HASIL AKSI NYATA
Sebelum mengambil keputusan dalam kasus
dilemma etika ini, penulis melakukan diskusi dan sharing pendapat dengan salah
satu teman sejawat dan langsung mengajaknya bertemu dengan siswa tersebut serta
disaksikan oleh siswa ADEM lainnya yang kebetulan berada dalam satu rumah kost.
Penulis mencermati kasus ini dengan memperhatikan
paradigma dilemma etika yang terjadi yaitu rasa keadilan lawan rasa kasihan (
justice vs mercy ), prinsip pengambilan
keputusan dilemma etika yaitu masuk pada berfikir berbasis peraturan (
rule-based-thinking) serta melalui 9 konsep langkah pengambilan dan pengujian
keputusan.
Keseluruhan proses yang penulis jalani
menghasilkan keputusan berdasarkan opsi trilema yaitu melaporkan kasus ini ke kepala sekolah, namun sebelumnya telah
melakukan pendekatan kepada kepala sekolah agar memberikan kesempatan kepada
Jacson untuk memperbaiki kesalahannya dalam pengawasan yang lebih ketat. Penulis
dan kepala sekolah mendatangi tempat kost Jacson dan memberikan arahan serta
membuat kesepakatan kusus buat dia dihadapan ibu kost serta teman temannya.
Jacson selama menjadi siswa disekolah penulis tidak boleh sama sekali
mengendarai sepeda motor, jika itu dilanggar maka semua haknya sebagai siswa
ADEM tidak akan diberikan.
Dokumentasi Aksi Nyata
Bersama teman sejawat mencari informasi kasus yang ditangani
Bersama kepala sekolah dihadapan ibu kost dan teman ADEM lainnya memberikan arahan serta membuat kesepakan baru
Bukti sepeda motor yang digunakan saat kecelakaan
B. Perasaan (
Feelings )
Awal terjadi kasus, penulis merasa
kawatir dan resah karena dihadapkan oleh pilihan apakah harus menunjukkan
kebenaran kepada kepala sekolah dengan konsekuensi anak asuh akan diberi
hukuman berat, ataukah melindungi anak asuh dengan tetap merahasiakan kasus ini
karena ini terjadi akibat dari niat baik pelaku untuk menolong temannya.
Setelah melalui proses yang bertahap, penulis merasa sangat lega karena
keputusan yang penulis ambil masih dapat membantu yang bersangkutan tanpa harus
menyembunyikan kasusnya kepada kepala sekolah. Penulis sangat merasa senang dan
bersyukur atas hasil yang telah dicapai.
C. PEMBELAJARAN ( Findings
)
Semua permasalahan/kasus pasti ada
jalan keluarnya, namun jalan keluar itu kerap tidak dapat memuaskan semua
pihak. Pengumpulan fakta-fakta yang autentik dapat menjadi dasar dalam pengambilan
sebuah keputusan yang baik. Komunikasi dan kolaborasi juga hal yang tidak bisa
ditinggalkan dalam proses sebelum keputusan dibuat. Sebagai seorang pemimpin
pembelajaran, guru dalam menghadapi kasus dilema etika semestinya mampu
melahirkan keputussan yang tetap berpihak kepada kebutuhan murid. Opsi trilema
dapat menjadi pertimbangan untuk mendapatkan jalan tengah demi meminimalisir
dampak negatif dari keputusan yang kita buat.
D. PENERAPAN KEDEPAN
( future )
Langkah – langkah dan pandangan –
pandangan dalam menyelesaikan kasus dilemma etika; 4 paradigma etika, 3
prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan akan tetap penulis
pelajari serta latih lebih baik lagi untuk dapat diterapkan dengan lebif
efektif dalam upaya menghasilkan keputusan bertanggung jawab sebagai seorang
pemimpin pembelajaran.
Artikel disusun oleh Putu Suhartana, S.Pd
Calon Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Gianyar-BALI



Komentar
Posting Komentar