Menumbuhkan Budaya Positif " Zero Meal in Class"
Arikel oleh : Putu Suhartana, S.Pd
CGP-Angk 2-Kab. Gianyar
I. Latar Belakang.
Pencapaian tujuan pendidikan di sekolah ditentukan oleh banyak faktor baik intrinsik maupun ekstrinsik. Kenyamanan, kebersihan dan kerapian ruang kelas adalah salah satu faktor ekstrinsik yang secara tidak langsung sangat berpengaruh terhadap pencapain prestasi akademik peserta didik karena secara psikologis mereka akan merasa lebih tenang dan konsen dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru jika lingkungan kelas mereka selalu nyaman, bersih dan rapi. Namun sering kali keadaan kelas disuatu sekolah hanya bersih dan rapi saat jam-jam awal pembelajaran dan cenderung kotor saat setelah jam istirahat berlangsung. Hal ini terjadi karena ada kebiasaan peserta didik yang membawa makanan dari rumah ataupun dari kantin yang mereka konsumsi didalam kelas. Kelas menjadi kotor dan ada bau yang kurang sedap saat jam pelajaran selanjutnya berlangsung. Kenyamanan dalam mengikuti pembelajaran akan terganggu sehingga sedikit banyak berpengaruh terhadap penyerapan materi ajar. Bercermin dari pemaparan diatas, penulis memberikan alternatif solusi agar kelas tetap dalam keadaan bersih sehingga kenyamanan dalam belajar tetap terjaga dengan membuat kesepakatan kelas untuk tidak mengkonsumsi makanan di dalam kelas saat istirahat. Kesepakatan ini disebut " Zero Meal in Class".
II. Deskripsi Rancangan Program
Langkah awal dalam perancangan aksi nyata " Zero Meal in Class" adalah berdiskusi dengan kepala sekolah tentang ide awal dan menjelaskan kenapa program ini layak untuk dilaksanakan. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah, kemudian mensosialisasikan dengan wakil kepala sekolah, dewan guru dan pegawai. Selanjutnya melangkah ke hal yang paling penting yaitu membuat kesepakatan dengan kelas-kelas yang diampu penulis. Kesepakatan kelas dibangaun dari hasil diskusi dengan tetap memperhatikan gagasan-gagasan siswa yang relaven dengan program. Dalam kesepakatan kelas ini juga dipaparkan konsekuensi yang wajib dijalankan oleh siswa maupun guru jika sepekatan tersebut tidak dijalankan atau dilanggar. Ini adalah salah satu upaya untuk membangun budaya positif di kelas untuk para siswa yang nantinya akan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi budaya sekolah yang akan dijalankan secara terus menerus oleh generasi yang selanjutnya.
III. Hasil aksi nyata " Zero Meal in Class"
Pelaksanaan program aksi nyata " Zero Meal in Class" baru dapat dimulai di minggu kedua bulan Juli saat pembelajaran tatap muka di sekolah penulis bertugas dilaksanakan.
IV. Rancangan Perbaikan
Setelah nantinya program dapat dijalankan, akan dilaksanakan refleksi secara berkelanjutan di setiap harinya sehingga akan dapat didata kekuatan dan kelemahan serta kendala yang dihadapi. Berdasrkan data yang diperoleh akan dilakukan perbaikan-perbaikan dan merancang tindakan yang baru berdasarkan perbaikan tersebut. Dengan adanya rancangan perbaikan diharapkan akan membawa hasil yang lebih baik dari sebelumnya.
V. Dokumentasi Proses.
Dokumentasi baru sebatas persiapan perancangan program dan sosialisasi.
Mensosialisasikan program kepada guru dan pegawai
Melaksanakan pembersihan kelas sebelum melakukan kegiatan kesepakatan kelas yang akan dilaksanakan secara tatap muka





Komentar
Posting Komentar